Arsip Tag: harga gaharu

Harga Gaharu Terkini

Harga gaharu saat iniBanyak yang tidak tahu jika saat ini pasar gaharu sedang mengalami penurunan sehingga membuat saya tergelitik untuk menulis artikel ini agar kita semua memahami perkembangan pasar yang sedang terjadi karena masih banyak teman-teman yang tidak menyadarinya sehingga terlalu memaksakan diri untuk menawarkan gaharunya dengan harga yang, ehem, tinggi.

September 2014 adalah klimaks pasaran gaharu dunia sejak awal perdagangan gaharu setidaknya sejak tahun 2007 lalu. Setelah itu mengalami penurunan hingga saat ini. Continue reading “Harga Gaharu Terkini” »

Penentu Kualitas Gaharu

Ukuran Kualitas GaharuIstilah kualitas menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah merupakan tingkat baik buruknya sesuatu. Jadi kalau istilah kualitas ini diterapkan pada produk gaharu berarti tingkat baik buruknya gaharu. Ukuran tingkat baik buruknya gaharu itu di Indonesia telah ditetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Gaharu 01-5009.1-1999. Dalam SNI tersebut dijelaskan tentang ruang lingkup, definisi, lambang dan singkatan, istilah, spesifikasi, klasifikasi, cara pemungutan, syarat mutu, pengambilan contoh, cara uji, syarat lulus uji dan syarat penandaan.

Definisi gaharu yang dijelaskan dalam SNI adalah sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan telah mati, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon tersebut, dan pada umumnya terjadi pada pohon Aquilaria sp. (Nama daerah : Karas, Alim, Garu dan lain-lain). Continue reading “Penentu Kualitas Gaharu” »

Potensi Pasar Gaharu

Gaharu, Kayu hutan yang dikenal sebagai kayu yang paling berharga di dunia. Gaharu atau Aquilaria atau Agarwood adalah bagian dari keluarga Thymelaeaceae dan merupakan tumbuhan asli yang berasal dari Asia Tenggara. Gaharu tumbuh di hutan tropis Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, India Utara, Filipina, Kalimantan, Papua dan New Guinea. Pokok-pokok Gaharu dewasa tumbuh antara 6 meter sampai 20 meter. Gaharu ini dikenal sebagai penghasil utama dari resin atau getah kayu Gaharu. Jenis yang terbanyak dari Indonesia adalah dari jenis Aquilaria malaccensis; sekaligus juga wanginya yang khas dari jenis malaccensis ini sangat digemari di negara-negara Timur Tengah.

Berkurangnya pohon-pohon yang tumbuh secara alami karena penebangan yang membabi-buta dari para pemburu Gaharu untuk mengambil gubal dan getah Gaharu ini telah membuat pohon Gaharu ini menjadi terdaftar dalam Apendix II IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan dinyatakan sebagai spesies yang vulnerable atau terancam punah, oleh karenanya harus dilindungi. Praktek perburuan Gaharu ini dan sekarang juga sudah dinyatakan tidak syah dan melakukannya akan menjadi praktek yang ilegal. Kegiatan yang sedang berjalan saat ini di beberapa negara di Asia Tenggara adalah usaha-usaha untuk membudidayakan Gaharu, dimana hasil getahnya diproduksi dengan cara melakukan proses inokulasi jamur/bakteri terhadap pohon Gaharu ini sehingga terjadi infeksi secara artificial yang bisa merangsang pohon untuk menghasilkan getah Gaharu yang bisa dipanen secara berkelanjutan tanpa mengurangi populasi Gaharu alam di hutan-hutan.

Pohon Gaharu dari tanaman budidaya ini akan memerlukan proses inokulasi jamur atau bakteri sebelum bisa memproduksi resin atau getah yang terperangkap di dalam batang pohonnya. Getah atau gubal Gaharu ini memiliki aroma wangi yang mempunyai nilai jual yang tinggi di pasar international. Untuk pohon-pohon Gaharu, proses mengeluarkan getah ini adalah mekanisme pertahanan mereka untuk hidup, tapi bagi penanam Gaharu tujuan mereka adalah agar pohon Gaharu bisa menghasilkan resin berharga yang justru merupakan produk utama dari hasil kerja mereka. Infeksi bakteri atau jamur ini sangat penting agar pohon bisa memproduksi resin atau getah Gaharu yang diharapkan, tanpa inokulasi ini, tidak akan ada getah atau resin yang diproduksi dan akibatnya juga tidak akan ada nilai ekonomis dapat diharapkan dari usaha budidaya Gaharu seperti itu.

Pasar Gaharu tradisional mencari dan membeli resin yaitu gubal yang terjebak dalam batang pohon Gaharu, Gubal atau resin atau chip ini sangat dicari untuk dipakai sebagai dupa di negara-negara Timur Tengah; Gaharu di negara-negara ini dikenal dengan sebutan “Oud” dan secara tradisional digunakan untuk menghasilkan wewangian aromatik ruangan untuk menyambut tamu atau aromaterapi dan relaksasi. Gaharu juga menghasilkan minyak atsiri yang berharga untuk bahan dasar parfum, aromaterapi, obat-obatan, artefak religi dan alat bantu doa bagi umat Buddha dan Hindu.

Sebaliknya usaha menanam Gaharu untuk dipanen hasilnya adalah cara terbaik dan berkelanjutan yang disatu pihak memungkinkan kita untuk memenuhi permintaan pasar dunia yang terus meningkat untuk obat-obatan, parfum, seni-kerajinan dan turunan lainnya, di lain pihak kita tak perlu merusak hutan dan menghabiskan tumbuhan Gaharu di dalamnya. Penanaman ini juga akan membantu melindungi populasi Gaharu liar di hutan alam. Dengan demikian Gaharu hasil budi-daya akan memperoleh insentif ekonomi yang tinggi untuk menghasilkan Gaharu kualitas terbaik di dalam memenuhi tuntutan pasar tersebut.

POTENSI PASAR GAHARU
Gaharu Negara-negara Timur Tengah masih menunjukkan permintaan yang tertinggi dengan rata-rata sekitar US $ 3,3 miliar setiap tahun, sementara Asia Timur dan Asia Selatan pasar di Negara-negara ini juga meningkat, pada saat yang sama mereka juga meningkatkan produk Gaharu mereka terus setiap tahun. Berikut adalah beberapa ilustrasi mengenai seberapa besar dan nilainya pasar Gaharu di seluruh dunia.

SEGMENTASI PASAR GAHARU
Pasar konsumen untuk Gaharu berkembang dengan baik di Timur Tengah dan Asia Timur Laut di mana Gaharu telah digunakan selama lebih dari seribu tahun. Taiwan, Singapura, Hong Kong dan Bangkok adalah pusat-pusat pedagangan utama Gaharu sementara Thailand, Indonesia, Vietnam dan Malaysia adalah produsen utamanya. Meningkatnya kelangkaan akan Gaharu hutan yang ilegal kini membuat Gaharu budidaya banyak dicari orang untuk memenuhi permintaan pasar global.

Permintaan Pasar Taiwan
Taiwan telah lama menjadi pedagang besar di Gaharu untuk digunakan baik sebagai obat maupun untuk artefak budaya dan keagamaan, misalnya untuk patung dan tasbih. Menurut catatan resmi, 6,843 ton Gaharu diproses didatangkan ke Taiwan dalam sepuluh tahun hingga 2003. Harga Gaharu untuk bahan obat bervariasi antara US $ 3,000 sampai US $ 30,000 per kilogram dan minyak olahan antara US $ 7,000 untuk US $ 61,000 liter. Besar potongan kualitas yang baik yang cocok untuk patung hias dapat laku hingga US $ 100,000 per kilogram.

Permintaan Pasar Jepang
Di Osaka, Jepang, toko yang dikenal sebagai Jinkoh-ya (harfiahnya, ” Toko Gaharu “) telah berdagang produk Gaharu selama lebih dari 350 tahun. Selama periode 1991-1998, menurut angka resmi Bea Cukai, 277,396 kilogram Gaharu mentah diexport ke Jepang, atau rata-rata lebih dari 34 ton per tahun. Sebuah survei 2004 Harga kayu Gaharu batangan dibandrol dengan harga mulai dari US $ 320 hingga US $ 22,700 per kilogram dengan nilai penjualan tertinggi sebesar antara US $ 9,000 sampai US $ 272,000 per kilogram.

Permintaan Pasar Timur Tengah
Permintaan produk Gaharu untuk pasar Timur Tengah secara signifikan melebihi dari permintaan Asia Timur. Salah satu pedagang ritel terkenal Arab Saudi yang mengkhususkan diri dalam penjualan oud (produk Gaharu) memiliki lebih dari 550 gerai ritel di 17 negara dengan lebih dari 600,000 pelanggan dan merupakan salah satu pengecer terbesar di dunia parfum di pasar senilai US $ 3,3 miliar per tahun. Perusahaan ini mengimpor 45 Ton Gaharu per tahunnya diproses untuk memproduksi 400 wewangian bermacam-macam dengan oud atau Gaharu sebagai bahan dasar. Usaha ini memiliki kapasitas produksi 30 juta botol parfum dalam setahunnya.

Permintaan Pasar China
China memerlukan suplai Gaharu dari Indonesia sekurang-kurangnya 500 ton Gaharu per tahun. Namun sampai saat ini Indonesia baru dapat memenuhi kurang dari 200 ton per tahun.

Sumber:
TRAFFIC: Trade Records and Analysis of Flora and Fauna In Commerce,
IUCN: International Union for Conservation of Nature,
CITES: Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora,
IEST: Institute of Environmental Sciences and Technology

Continue reading “Potensi Pasar Gaharu” »