Budidaya Gaharu Masa Tanam

Paradigma Budidaya Gaharu – Masa Tanam

Pertanyaannya adalah, APAKAH SELAMA INI GAHARU BUDIDAYA LAKU DI PASARAN? Jawabannya adalah “YA” dan “TIDAK”. Mengapa kami katakan demikian? Ya karena ada yang laku ada juga yang tidak laku, meski memang yang tidak laku jauh lebih banyak persentasenya.

Baik, berdasarkan fakta yang kami amati selama ini melalui informasi yang kami dapat dari ratusan pembudidaya gaharu di berbagai wilayah Indonesia yang pernah menghubungi kami, bahwa mayoritas gaharu budidaya kurang begitu diminati pasar sehingga boleh dikatakan kurang laku atau tidak laku. Dalam arti kekuranglakuan atau ketidaklakuan tersebut bukan karena tanpa alasan. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi dan boleh jadi tidak semua orang mengetahui dan memahaminya.

Faktor-faktor tersebut tidak terlepas dari faktor internal yang berkaitan dengan aspek budidayanya itu sendiri, dan faktor eksternal yang berkenaan dengan kondisi pasar pada suatu saat tertentu, infrastruktur pengolahan, jaringan pemasaran, dll.

Namun menurut kami hal yang paling mendasar dalam budidaya ini adalah adanya faktor ketidaktahuan dan kurangnya informasi sehingga menyebabkan kekeliruan dalam paradigma budidaya gaharu itu sendiri.

Diantara faktor-faktor internal yang kami maksud adalah: 1. Masa Tanam, 2. Teknik Budidaya dan Perawatan, 3. Teknik Inokulasi, 4. Inokulan. Dll.

MASA TANAM

Sebagai salah satu contoh misalnya dalam hal masa tanam, banyak diantara para pembudidaya yang berlomba-lomba untuk menanam pohon gaharu dengan masa tanam 5 (lima) tahun saja, lalu diinokulasi, dengan harapan dapat dipanen pada usia 7 (tujuh) atau 8 (delapan) tahun. Dan kenyataannya tidak sedikit yang gagal, merasa kecewa, dan merasa tertipu ketika hasil tidak sesuai dengan harapan. Karena gaharu yang dihasilkan tidak masuk kepada kualitas dan kelas yang diminati oleh pasar. Disisi lain, kalaupun mau dijadikan bahan penyulingan minyak, kandungannya tidak memenuhi standar minimum rendemen.

Sebagai gambaran, kami pernah menemukan gaharu budidaya yang boleh dibilang sudah masuk kategori yang diminati pasar dengan masa usia tanam selama 21 (duapuluh satu) tahun bahkan tanpa diinokulasi.

Gambaran lainnya, kami pernah melakukan berbagai diskusi dengan negara-negara sesama produsen gaharu budidaya, mereka memiliki standar aman masa tanam yang rata-rata sama yaitu pada angka 25 (duapuluh lima) sampai dengan 30 (tigapuluh) tahun. Sehingga gaharu yang dihasilkan tentunya lebih baik dan sudah memenuhi standar kualitas pasar. Dan sudah memenuhi standar minimum rendemen penyulingan kalaupun mau dijadikan bahan baku minyak gaharu.

Namun ada pula suatu negara yang memiliki standar masa tanam 5 (lima) tahun dan dipanen pada usia 7-8 tahun dengan inovasi teknologi budidaya yang mereka kembangkan. Tapi, dengan catatan mereka telah mempersiapkan infrastruktur pengolahan untuk diversifikasi produk turunan yang beragam. Serta sudah memiliki pasar atau pelemparan untuk hasil budidayanya dan produk turunannya tersebut. Sehingga kalaupun masa tanamnya tergolong tidak lama, akan tetapi produk yang dihasilkan sudah dapat menghasilkan.

Tulisan ini tentunya tidaklah memiliki maksud yang negatif, melainkan sebatas menyampaikan gambaran-gambaran yang selama ini terjadi agar kita dapat memperbaiki kekurangan sehingga dapat melakukan hal yang lebih baik lagi untuk kedepannya. Semoga memberikan pencerahan, dan semoga bermanfaat…

Bersambung…