Ngukus Antara Budaya Sunda dan Ajaran Islam

Gaharu Budaya Sunda dan Ajaran IslamKetika saya membakar gaharu dan beberapa tetangga lewat yang notabene adalah orang-orang Sunda, spontan mereka berkata, “Emh, bau menyan!” Dan banyak orang Sunda yang pernah saya bakarkan gaharu berbagai jenis dan kelas dari mulai terendah sampai tertinggi, hampir semuanya mengatakan, “menyan”. Bahkan banyak diantaranya yang tidak tahu kalau itu gaharu. Rupanya bagi orang-orang Sunda, gaharu pun disebut menyan, “menyan gaharu”. Dan pernah seseorang mengatakan jika gaharu itu adalah “menyan nomor satu”. Entahlah, yang pasti, membakar gaharu atau membakar menyan atau “ngukus” merupakan salah satu warisan budaya leluhur peradaban Sunda jauh sebelum peradaban lainnya lahir di muka bumi ini. Wallohu A’lam.

Lantas bagaimanakah korelasi antara budaya Sunda dengan ajaran Islam khususnya dalam hal membakar gaharu/menyan atau budaya ngukus ini? Semoga tulisan ini dapat memberikan pencerahan. Aamiin.

Pengertian “Ngukus

“Ngukus” merupakan kata kerja dari kata “kukus”, yang mempunyai makna asal “mengepul”, “berasap”, ataupun “mengeluarkan asap”. Dalam budaya Sunda, “Ngukus ” bermakna “aktivitas membakar menyan (kemenyan) yang menyertai ritual tertentu. Sedangkan, “kukusan” bermakna tempat “kukus” yang biasanyadibuat dari tembikar berbetuk mangkuk.

“Kemenyan” berasal dari “getah” [eksudat] kering yang berasal dari pohon kemenyan, yang keluar dengan sendirinya atau senagaja ditoreh [diturih], serupa dengan cara mengambil getah karet. Terdapat beberapa jenis kemenyan yang masing-masing memiliki kadar wangi yang berbeda-beda, sangat tergantung pada kualitasnya.  Kemenyan yang bagus, pada masanya,  mempunyai harga sebanding dengan emas.

Pada satu sisi, ngukus merupakan bagian dari budaya yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Sunda, dan lainnya. Pada sisi lainnya, kepemilikan kemenyan dapat menunjukkan status sosial pemiliknya; yakni jika ia memiliki kemenyan yang berkualitas tinggi, berarti ia adalah orang kaya; demikian sebaliknya. Pada sisi lain juga, pada jamannya, kemenyan menunjukkan komoditas yang mampu menggerakkan roda ekonomi.

Moment “Ngukus

“Ngukus”, umumnya, dilakukan untuk mangawali sebuah doa atau ritus, seperti 1) syukuran [do’a-d’oa pada moment “bahagia”, 2) tahlil-an [do’a-do’a pada moment kematian, 3) mengawali do’a jika mau menanam padi atau memanen padi, 4) ngaruwat, 5) mujasmedi, 6)

Cara “Ngukus

“Ngukus” dilakukan dengan cara membakar serpihan kayu atau arang hingga meghasilkan bara. Ketika bara sudah terbetuk, maka mulailah ditaburi atau dimasukkan kemenyan tersebut. Sebagian orang, terutama para sepuh, melakukan hal ini dengan membacakan doa-doa atau mantera-mantera tertentu.Jika membakar kemenyan tersebut dilakukan di ruangan, maka ketika “asap” kemenyan sudah terbentuk, maka kukusan kemudian dikelilingkan ke seluruh agar wangi kemenyan menyebar ke seluruh ruangan. Jika hal tersebut dilakukan di luar ruangan, maka ia hanya diputar-putar di atas kepada ke seluruh penjuru angin. setelah itu, maka kukusan dapat disimpan di tempat tertentu, seperti “gowah” [gudang] atau dapur.

Fungsi “Ngukus

Ada beberapa fungsi ngukus [membakar kemenyan] dalam pelaksanaan ritus atau ritual pada masyarakat Sunda. Pertama, untuk mengharumkan ruangan.  Pada zamannya “ngukus” dimaksudkan untuk mengharumkan ruangan, serupa dengan fungsi “dupa” atau minyak wangi. Sebagian meneyebutkan bahwa “kukus” juga dapat mengusir nyamuk. Kedua, meningkatkan konsentrasi ketika melakukan semedi [mujasmedi] atau “bertapa”. Ketiga, sebagian memaknai bahwa “ngukus’ merupakan media untuk menghadirkan “makhluk ghaib” [malaikat atau jin] agar mau mendekat ke ruangan tersebut dan memberkati ritual yang akan dilakukan. Ada juga yang memaknai bahwa kukusan merupakan media untuk menghubungkan dunia manusia dengan dunia ruh.

Bersambung…

Sumber-sumber tulisan:

  • Dadan Rusmana
  • Gilang Gaharuda